SELAMAT DATANG DI BLOG MEDIA ONLINE SASTRA INDONESIA UNIVERSITAS UDAYANA

Senin, 03 Januari 2011

Kehidupan John sebagai tukang pakir

John


MAJAS, Denpasar - Seorang tukang parkir harus memiliki jiwa ksatria, berdedikasi tinggi dan cinta tanah air. Profesi tukang parkir adalah profesi yang beresiko tinggi (ketabrak mobil yang diparkirin, misalnya) dan penuh tantangan.
Tukang parkir adalah pekerjaan yang berhubungan dengan mengatur tata cara parkir memarkir suatu kendaraan. dari suatu kendaraan itu mulai masuk parkir sampai kendaraan itu keluar parkiran, semuanya itu adalah tanggung jawab tukang parker.
Tukang parkir merupakan profesi yang terlatih bukan terdidik jadinya untuk dapat terjun dalam profesi ini tidak perlu bersekolah untuk belajar akan tetapi cuma perlu berlatih sampai dapat melakukan pekerjaan ini dengan baik dan lancar.
Jhon itulah panggilan akrab untuk Yohanes Kuil. Jhon memiliki postur tubuh yang sedang-sedang (tidak kurus, tidak gemuk). Biarpun dia lahir di Nusa Tenggara Timur (NTT) tetapi dia tetap semangat bekerja merantau sebagai tukang pakir di Bali. Jhon menjadi tukang pakir sejak tahun 2008 sampai sekarang. Jhon juga harus menyetorkan uang karcis ke Perusaan Daerah (PD) tergantung pendapatan yang dia dapatkan selama menjadi tukang pakir kira-kira sekitar Rp. 20.000 per-hari. Jhon tidak pernah mendapati peringatan bila tidak memenuhi target uang pakir yang harus disetorkan ke PD pakir. Berapapun uang pakir yang didapati oleh Jhon, Jhon harus tetap menyetorkan uang pakir ke PD pakir. Sepeda motor harus membayar Rp. 500 tidak Rp. 1000. Di Denpasar Selatan mobil masih membayar Rp. 1000 belum ada kenaikan tarif seperti tempat pakir yang lain.

Jhon menempuh Pendidikan terakhirnya di SLTP (Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama) NTT. Keadaan keluarganya yang memaksa Jhon menjadi tukang pakir. Jhon tidak memiliki pekerjaan lain selain menjadi tukang pakir. Dari pagi hingga malam dia menjadi tukang pakir di jalan Pulau Nias. Keringat selalu membasahi bajunya tetapi dia pantang menyerah menjalani hidup ini. Sebelum menjadi tukang pakir Jhon bekerja sebagai kuli bangunan. Jhon pernah mendapatkan peringatan dari konsumen karena banyak konsumen yang pakir sembarangan di pinggir jalan sehingga konsumen lain yang ingin pakir tidak mendapatkan tempat pakir yang layak. Konsumen menjadi marah dan tidak jadi pakir di tempat itu.

Jhon merasa tidak senang bekerja sebagai tukang pakir karena Jhon mempunyai impian yang lebih baik dari pada menjadi tukang pakir. Dia ingin bisa membahagiakan ke dua orang tuanya. Dia ingin bekerja selayaknya orang-orang lain seperti guru, polisi, tentara, dan lain-lain tetapi sayang Jhon hanya mampu melanjutkan pendidikan sampai SLTP sehingga Jhon memilih pekerjaan sebagai tukang pakir. Jhon belum berkeluarga. Yohanes mendapat gaji selama sebulan Rata-rata Rp. 600.000,- gaji itu tidak mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari. Jhon merasa sekarang semua kebutuhan hidup naik.

  Jhon belum berani menikah nanti anak dan istri dia beri makan apa ? gaji yang dia dapatkan sebagai tukang pakir belum bisa mencukupi membiayai kehidupan istri dan anaknya. Pekerjaan sebagai tukang pakir cukup berarti bagi Jhon pekerjaan ini bisa menjamin kehidupannya di Bali. Kesan dan pesan Yohanes selama menjadi tukang pakir, pekerjaan ini cukup berarti bagi Jhon dalam mencukupi kehidupan sehari-harinya. Biar hanya menjadi tukang pakir dia tetap semangat menjalani hidup ini. Kepada konsumen, dimohon agar memarkir kendarannya pada tempat yang disediakan. Kehidupan Jhon seperti lagu yang dinyanyikan d’masiv “Syukuri apa yang ada hidup adalah anugrah tetap jalanni hidup ini melakukan yang terbaik. Jangan menyerah….Jangan menyerah….Jangan menyerah…ooooo….”  (SMD)

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Cheap Web Hosting | Top Web Hosts | Great HTML Templates from easytemplates.com.