This is featured post 1 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com.
This is featured post 2 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com.
This is featured post 3 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com.
Senin, 10 Januari 2011
Jalur Gajah Mada Berubah, “Omset” Parkir Menurun
Posted by MAJAS on 10.18
Denpasar – Beberapa hari ini salah satu sudut kota denpasar terlihat ramai lancar dan rapih, kenapa? Karena jalan Gajah Mada denpasar tengah dalam proses menjadi jalan yang “the real heritage”. Jalan ini sebelumnya sangat padat dengan kendaraan yang akan menuju pusat kota denpasar (titik nol). Hal ini membuat denpasar lebih rapih dan tidak semerawut dengan adanya parkir yang mengakibatkan jalan gajah mada semakin macet. Parkir yang berada di sebelah utara jalan ini kini telah dipasangi plang dilarang parkir “P coret”. Parkir kendaraan roda dua dan roda empat dialihkan ke gang-gang dan ke dalam gang pinggir kali badung khusus parkir roda dua.
Untuk roda empat dialihkan ke dalam basement pasar badung yang sengaja dibuat pemda kota denpasar di areal pasar kumbasari. Selain itu jalan sulawesi kini berubah lajur, yang dulu dari arah selatan ke utara kini berubah sebaliknya, jalan lainnya yang ikut diubah lajurnya adalah jalan gunung Kawi dan Gunung Raung Denpasar. Pemkot Denpasar mengimbau masyarakat untuk menghindari ruas jalan yang mengalami perubahan jalur agar tidak terjebak kemacetan berkaitan pelaksanaan "Denpasar Festival" yang berlangsung 28-31 Desember yang lalu. Kabag Humas dan Protokol Pemkot Denpasar Made Erwin Suryadarma di Denpasar, Selasa mengatakan, beberapa ruas jalan yang diubah jalurnya adalah Jalan Sulawesi, Gunung Kawi dan Gunung Raung. Perubahan ruas jalan tersebut dilakukan karena kegiatan Denpasar Festival akan dipusatkan di Jalan Gajah Mada Timur, Veteran dan depan Patung Catur Muka Erwin menjelaskan, Jalan Sulawesi mengalami perubahan yang biasanya kendaraan bermotor bisa melintas dari selatan ke utara, sekarang dibalik dari utara ke selatan.
Hal sama juga diterapkan di Jalan Gunung Kawi, kendaraan bermotor hanya boleh melintas dari arah utara ke selatan. Sementara, Jalan Gunung Raung mengalami perubahan yang biasanya kendaraan bermotor melintas dari barat ke timur, saat ini dibalik dari timur ke barat. Sebelum pembukaan acara tersebut, beberapa ruas jalan di sekitar lokasi pelaksanaan kegiatan tahunan Pemkot Denpasar itu ditutup. Akibatnya terjadi kemacetan cukup parah di beberapa ruas jalan yang ada di Kota Denpasar, seperti di Jalan Gatot Subroto Tengah, Cokroaminoto, Wahidin dan Gunung Agung. Mayoritas mobil yang melintas di kawasan tersebut hanya bisa diam dan tidak bergerak cukup lama.
Sementara itu kegiatan parkir yang dilakukan oleh PD Parkir Denpasar di seputaran pasar kumbasari setelah adanya pemberlakuan peraturan jalan dan parkir baru nampaknya membuat mereka kehilangan banyak “omset” karena hampir 70 Jukir yang berkerja di areal seputaran pasar Kumbasari mendadak di “PHK” lantaran pemberlakuan aturan baru dalam parkir ini. “omset kita mulai berkurang mas, apalagi kita sendiri hanya diberi 30% dari hasil parkir kami, itupun sebelumnya masih dibagi dengan pecalang desa adat, sehingga membuat kawan-kawan kami 70 orang sudah tidak melakukan kerja menjadi Jukir (juru parkir), tapi dari pihak kantor PD Parkir tengah mencari solusi agar kawan-kawan kami itu bisa bekerja kembali, kasihan mas keluarganya di rumah, saya takutnya dibalik pemberlakuan aturan ini ada pihak yang mengambil pekerjaan tetap kami mas, apa mungkin dari partai politik ataupun dari pihak-pihak lain’ ujar Budi (nama samaran) kepada tim redaksi Majas. (dzar)
Rabu, 05 Januari 2011
Apa, Ada “Gayus” di Parkiran???
Posted by MAJAS on 12.57
![]() |
| Stop!!! |
MAJAS - Denpasar sore itu lalu lintas sangat padat. Bising kendaraan menggama di sudut kota. Kemacetan pun menjadi pemandangan yang biasa di seputaran jalan Gajah Mada. Ruas jalan yang sempit ditambah parkir yang tak teratur menambah suasana kemacetan menjadi padat merapat. Juru parkir pun hanya pelengkap pemandangan jalan Gajah Mada.
Ketika kami mengunjungi alun-alun kota Denpasar bersama teman-teman beberapa waktu yang lalu, banyak sekali saya jumpai para juru parkir yang hampir semuanya memakai seragam berwarna biru, selain itu juga saya temui areal parkir yang digunakan itu ada tanda yang menyatakan bahwa “Disini di larang parkir (jalan Hayam Wuruk).”
Pada saat saya berbincang-bincang dengan seorang juru parkir di alun-alun kota Denpasar, hampir semua juru parkirnya merupakan anggota dari sebuah komunitas yang memang dibentuk untuk menaungi para juru parkir yang ada di alun-alun kota Denpasar. Salah satu atribut yang digunakan sebagai bukti bahwa mereka merupakan komunitas adalah menggunakan seragam yang berwarna biru tersebut. Di alun-alun kota Denpasar tarif parkir sepada motor yang di pasang perkendaraanya adalah Rp 1000 sedangkan untuk kendaraan roda empat dipasang tarif hingga Rp 2000. Untuk ukuran tarif parkir sepeda motor nominal ini tergolong mahal.
Salah satu narasumber yang saya ajak bincang-bincang adalah Pak john, beliau ini sudah delapan tahunan bekerja sebagai juru parkir di alun-alun kota Denpasar. “Di alun-alun ini kami (para juru parkir) berada di bawah naungan sebuah komunitas, yang mana didalam komunitas ini terbagi dalam 19 kelompok dan di tiap-tiap kelompoknya itu ada sekitar 3-7 orang juru parkir yang ada di alun-alun kota Denpasar mengaku sudah memperoleh izin untuk mendirikan komunitas dan izin untuk membuka lahan parkir di areal alun-alun dari pemerintah kota Denpasar, tapi sepeserpun komunitas ini belum pernah memberikan iuran atau pajak kepada Pemkot. Semua hasil dari penarikan parkir akan menjadi milik perorangan dari komunitas dan beberapa disisihkan untuk komunitas sendiri, yaitu iuran perminggunya sebesar Rp. 10.000“, Untuk uang hasil dari parkir ini perseorangan mbak! Atau hasilnya nanti untuk kami pribadi. Hasil yang diperuntukkan untuk komunitas akan ada iurannya sendiri, yaitu setiap malam minggu. Setiap malam minggu akan ada wakil dari komunitas kami yang menarik iuran sebesar Rp. 10.000 permasing-masing kelompok. Sedangkan untuk Pemkot kaya’nya nggak ada iuran-iuran apapun. Kami memang mendapatkan izin untuk mendirikan komunitas serta membuka lahan parkir di areal luar alun-alun ini oleh pemerintah kota Denpasar, tetapi kami sekalipun belum pernah membayar sepeser uangpun kepada pihak pemerintah kota. Bagi kami asalkan udah dapat izin, kami tidak perlu mengeluarkan uang untuk pemerintah.” Tutur Pak John.
Dalam satu komunitas parkir itu ada 95 anggota dan dalam sehari setiap anggota minimal bisa menghandel 35 sampai 40 kendaran, artinya perharinya setiap anggota komunitas parkir itu bisa berpendapatan Rp. 35.000 hingga Rp.40.000 pada hari-hari biasa dan ditiap akhir pekan sudah bisa mengantongi kurang lebih RP. 350.000. Jika semua hasil itu dikalikan 365 hari dan dikalikan dengan semua jumlah anggota dari komunitas akan diperoleh hasil Rp. 2.736.000.000,00
Dari jumlah uang yang fantastis tersebut sepeserpun pemerintah kota yang disini adalah sebagai pengelola sekaligus penanggung jawab resmi dari alun-alun sendiri tidak mendapatkan bagiannya. Meskipun setiap tahunnya pemerintah akan mengeluarkan anggaran yang tidak sedikit untuk tujuan renovasi dan pelestarian lingkungan di alun-alun, tidak ada dana hasil dari alun-alun sendiri yang masuk ke kas daerah, ini membuktikan bahwa uang pemerintah kota telah menguap tanpa jejak.
Selain mengenai uang parkir adalah mengenai rambu-rambu dan penyalahgunaan lahan, ketika saya meninjau lokasi taman kota tersebut, saya mendapati adanya sebuah rambu-rambu yang dipasang di depan pagar kantor kabupaten atau tepatnya berada di timur alun-alun yang jelas-jelas menyatakan bahwa “Disini dilarang parkir ” dipindahkan dan malah dialih fungsikan menjadi lahan parkir.
Ketika saya mengkonfirmasinya kepada Anto (32) salah seorang jukir yang kebetulan bertugas di areal itu mengatakan “Kami sudah mendapatkan izin dari pemerintah kota, jadi kami mempunyai hak untuk membuka lahan parkir di sekitar alun-alun ini, kami bebas memilih areal mana yang kami pakai sebagai tempat parkir. Pokoknya itu berada diluar pagar alun-alunnya dan masih pada batas wilayah alun-alun ini, ya.. termasuk disini (areal yang sebelumnya ada tanda “Dilarang parkir”).”(DSD)
Dari jumlah uang yang fantastis tersebut sepeserpun pemerintah kota yang disini adalah sebagai pengelola sekaligus penanggung jawab resmi dari alun-alun sendiri tidak mendapatkan bagiannya. Meskipun setiap tahunnya pemerintah akan mengeluarkan anggaran yang tidak sedikit untuk tujuan renovasi dan pelestarian lingkungan di alun-alun, tidak ada dana hasil dari alun-alun sendiri yang masuk ke kas daerah, ini membuktikan bahwa uang pemerintah kota telah menguap tanpa jejak.
Selain mengenai uang parkir adalah mengenai rambu-rambu dan penyalahgunaan lahan, ketika saya meninjau lokasi taman kota tersebut, saya mendapati adanya sebuah rambu-rambu yang dipasang di depan pagar kantor kabupaten atau tepatnya berada di timur alun-alun yang jelas-jelas menyatakan bahwa “Disini dilarang parkir ” dipindahkan dan malah dialih fungsikan menjadi lahan parkir.
Ketika saya mengkonfirmasinya kepada Anto (32) salah seorang jukir yang kebetulan bertugas di areal itu mengatakan “Kami sudah mendapatkan izin dari pemerintah kota, jadi kami mempunyai hak untuk membuka lahan parkir di sekitar alun-alun ini, kami bebas memilih areal mana yang kami pakai sebagai tempat parkir. Pokoknya itu berada diluar pagar alun-alunnya dan masih pada batas wilayah alun-alun ini, ya.. termasuk disini (areal yang sebelumnya ada tanda “Dilarang parkir”).”(DSD)
Selasa, 04 Januari 2011
Inilah Wanita-wanita Perkasa
Posted by MAJAS on 13.06
Pasar Kumbasari – Langit malam hitam pekat, ditambah kilauan cahaya lampu jalan yang semakin menerangi jalan-jalan dan lorong-lorong pasar Kumbasari Denpasar. Puluhan bahkan ratusan orang tumpah ruah dalam jual beli tradisional di sini. Sedikit pandangan kami melihat beberapa sosok wanita perkasa yang mondar mandir menawarkan jasanya kepada kami untuk dibantu membawakan barang belanjaan di pasar. “pak bantu jinjing pak” sapa Wayan Kartini kepada kami. Kartini yang berjuang di pasar demi beberapa lembar uang makan dan hidup.
Kartini yang satu ini memang asli Indonesia dan khususnya asli Bali, wanita paruh baya ini rela merelakan waktunya berlama-lama di pasar hanya untuk mengangkat barang-barang belanjaan pembeli maupun pedangan yang membutuhkan bantuannya. Yang unik adalah barang yang dibawa bukan digendong atau diangkat oleh kedua tangan, melainkan dijinjing di atas kepalanya. “Sungguh luar biasa wanita Bali ini” ungkap kami. Potret perjuangan yang perlu kiranya ditiru. Semangat berusaha walau sampai harus menjinjing di atas kepala.
Lain di pasar lain pula di tempat peribadatan (Pura) ketika upacara hari-hari besar Hindu tiba, seperti Galungan dan Kuningan, beberapa ibu-ibu muda dan tua saling bahu membahu membawa buah-buahan yang sudah tertata rapi di tempatnya, yang nantinya buah-buah itu akan disucikan oleh pendeta, yang sama uniknya, buah-buah yang telah disusun rapi tersebut dijinjing pula di atas kepalanya.(dz)
Kerusakan Jalan Di Seputaran Denpasar
Posted by MAJAS on 11.05
Denpasar - Sejumlah jalan di wilayah perkotaan di Denpasar ternyata banyak yang rusak. Khususnya, jalan-jalan sekunder yang menjadi jalan alternatif untuk menghindari kekroditan jalan utama. Namun, saat ini tidak sedikit jalan sekunder tersebut mengalami kerusakan. Seperti Jalan Gunung Catur di Padangsambian Kaja dan di jalan pulau moyo kelurahan Pedunganan. Selain kecil, jalan ini sekarang sudah banyak berlubang. Parahnya lagi saat menanjak, kondisi jalan rusak dan banyak berlubang, sehingga rawan kecelakaan,'' ujar salah seorang warga Denpasar.
Untuk Denpasar Selatan, Jalan Batanghari XA, Jalan Tukad Irawadi, Jl. Tukad Pakerisan, Jalan Kebudayaan dan Jalan Tukad Musi IV dan II, jalan Ponogoro tepat depan angkatan laut. Sementara untuk Denpasar Barat cukup banyak seperti Jl. Gunung Catur, Gunung Bromo, Gunung Krakatau, Gunung Lebah, Jalan Papandayan, Pulau Sebatik, dan Jalan Gunung Gede Padang Indah.
Banyaknya jalan yang mengalami kerusakkan banyak menyebabkan kecelakaan. Hal itu disebabkan si pengebudi tidak dapat menghindari jalan yang berlubang, tutur Arcaya. Selain itu, banyaknya proyek galian yang kurang memperhatikan kerataan kontruksi tanah. Sehingga saat diaspal jadi bergelombang.
Di seputaran jalan raya Sesetan dan Pesanggaran tepatnya di depan angkatan laut saring mengalami kerusakan dan pergerseran tutup DSDP saat musim hujan. Hal ini sangat membahayakan bagi pengguna kalan raya. Jalan itu sudah sering diperbaiki namun tidak bertahan lama jalan itu sudah kembali rusak, tegas cahyadi. Selain disebabkan oleh proyek galian, kkerusakan juga disebabkan oleh truk-truk yang melintas dengan muatan yang melebihi kapasitas. Ia mengharapkan pemerintah lebih sigap menangani masalah kerusakkan jalan, agar tidak membahayakan pengguna jalan._DSD
Resensi Buku
Posted by MAJAS on 10.52
JUDUL NOVEL : TUHAN JANGAN PISAHKAN KAMIPENGARANG :DAMIEN DEMATRA
PENERBIT : PT GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA
CETAKAN : 1 JANUARI 2010
HALAMAN : 239
Damien Dematra adalah seorang novelis, penulis skenario, sutradara, produser, fotografer internasional, dan pelukis. Ia telah menulis 62 buah novel dalam bahasa Inggris dan Indonesia, 57 skenario film dan TV series, dan memproduksi 28 film dalam berbagai genre, di antaranya Obama Anak Menteng. Sebagai fotografer, ia memperoleh dua gelar tertinggi fotografi: Fellowship di bidang Portraiture dan Art Photography dari Master Photographer Association, dan berbagai penghargaan internasional, di antaranya International Master Photographer of the Year.
Sebagai pelukis, Damien Dematra telah menghasilkan 365 karya lukis yang diselesaikan dalam waktu 1 tahun. Novel-novel yang telah diterbitkan dalam bahasa Indonesia adalah: Yogyakarta (2010), Obama dari Asisi (2010), Si Anak Panah (2010), Ketika Aku Menyentuh Awan (2010), Obama, Anak Menteng (Gramedia Pustaka Utama, 2010), Si Anak Kampoeng (Gramedia Pustaka utama, 2010), sebuah novel yang diangkat berdasarkan kisah nyata Buya Syafii Maarif.
Sejuta Doa untuk Gus Dur (Gramedia, 2010), Sejuta Hati untuk Gus Dur (gramedia, 2010), Ternyata Aku Sudah Islam (Gramedia, 2010), novel yang terinspirasi kisah nyata grup musik Debu, Demi Allah, Aku Jadi Teroris (Gramedia, 2009), Tuhan, Jangan Pisahkan Kami (Gramedia, 2010), Soulmate-Belahan Jiwa (Gramedia, 2008), Angels of Death-Kumpulan Kisah Malaikat Maut (2008), If Only I Could Hear-Kisah Suara Hati (2008). Dua buah novel lainnya yang menggunakan nama lain adalah: Tarian Maut (Katyana) (2008) dan Ku Tak Dapat Jalan Sendiri (Mark Andrew) (Gramedia, 2008). Novel Damien Dematra yang segera diterbitkan oleh Gramedia adalah Kartosoewirjo: Pahlawan atau Teroris? (2010) sebuah novel sejarah, Demi Allah, Anakku Jadi Teroris ( akan difilmkan) (2009), dan Mama, Aku Harus pergi (2010)
Novel Tuhan Jangan Pisahkan Kami Karya Damien Dematra menceritakan tentang seorang perempuan yang berasal dari keluarga sederhana bernama Prasasti. ayahnya seorang yang tidak dikenal, karena ibunya mengatakan kalau ayahnya telah mati dan Ibunya seorang pecandu dan sebelum meninggal memiliki sejumlah hutang pada beberapa pengedar. Prasasti harus mencari nafkah untuk membayar piutang ibunya dan memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.
Dalam sebuah pemeriksaan, Dokter memberi tahu Prasasti bahwa ia mengidap Lupus. Berawal dari itulah konflik batin melanda diri Prasasti, lebih-lebih di tengah labilnya diri Prasasti, Salman yang mencintainya ternyata mesti pergi meninggalkannya. Hadirlah Zahir, pemuda tampan, kaya raya, pujaan wanita, dan suka bicara blak-blakan. Perjumpaan mereka berlanjut ke pertemuan-pertemuan lain yang menambah kompleks permasalahan. Cobaan demi cobaan pun membawa Prasasti semakin dekat dengan Zahir. Lama-kelamaan perjalanan hidup Prasasti menjadi berubah (bahagia) dan kesehatannya pun semakin membaik, hal itu ia raih dengan usahnya yang kuat melawan penyakit yang di deritanya (Lupus).
Kelebihan terletak pada cover (sampul) novel Tuhan Jangan Pisahkan Kami karya Damien Dematra sangat menarik di baca dan indah. Kertas novel menggunakan kertas kuarto dan perwatakan tokoh mudah dimengerti. Menceritakan kehidupan seorang permpuan yang menderita penyakit Lupus. Prasasti sangat tegar menghadapi penyakit yang di deritanya (Lupus). Cerita dalam novel ini selalu menyentuh hati setiap orang yang membacanya.
Kelemahan novel tuhan jangan pisahkan Kami karya Damien Dematra terletak pada alur cerita yang singkat. Tokoh dalam novel kurang banyak. Novel Tuhan Jangan Pisahkan Kami karya Damien Dematra patut dibaca atau dimiliki karena isi cerita novel ini memberitahukan kita bagaimana ciri-ciri orang terkena penyakit Lupus dan juga cerita novel ini memberikan semangat hidup bagi orang-orang yang terserang penyakit Lupus. Penyakit Lupus tidak akan mencabut nyawa seseorang asalkan kita tetap memiliki semangat untuk hidup, seperti perjuangan Prasasti dalam menghadapi penyakit Lupus, Prasasti memiliki semangat hidup untuk orang-orang yang dicintainya. Prasasti selalu bersyukur kepada Tuhan, karena masih diberikan kesempatan untuk hidup dan berkumpul kembali bersama keluarganya. Nurtricana Saragih
Langganan:
Postingan (Atom)









